<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-298433241625412861</id><updated>2011-04-21T14:03:04.496-07:00</updated><category term='Introduce'/><category term='community'/><category term='international politics'/><category term='feature'/><title type='text'>Blog M Nasir</title><subtitle type='html'>This blog contains my experiences, my point of views about everything, and some interested stories about culture.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M Nasir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13901102521996065318</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-298433241625412861.post-1117712384762240679</id><published>2007-11-12T05:19:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T05:23:37.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='international politics'/><title type='text'>Zimbabwe</title><content type='html'>These are  my articles that were published by Kompas, leading Indonesian news paper, Jakarta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS - Kamis, 13 Apr 2006   Halaman: 45  &lt;br /&gt;ZIMBABWE MENATAP MASA DEPAN TANPA BARAT...&lt;br /&gt;Oleh M Nasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar Redaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Zimbabwe melalui duta besarnya untuk Indonesia, Alice&lt;br /&gt;Mageza, mengundang wartawan Indonesia untuk melihat langsung keadaan&lt;br /&gt;terakhir Zimbabwe pada minggu pertama April 2006. Wartawan "Kompas"&lt;br /&gt;yang memenuhi undangan itu menuliskan sebagian laporannya di bawah&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 150 murid kelas VI sekolah dasar berbaris dan berjalan&lt;br /&gt;menuju Taman Makam Pahlawan Nasional di Warren Hills, pinggiran kota&lt;br /&gt;Harare, ibu kota Zimbabwe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seragam hijau yang membalut tubuh mereka yang kurus dan&lt;br /&gt;hitam, mereka mengumandangkan lagu kebangsaan Kalibusiswe Ilizwe le&lt;br /&gt;Zimbabwe, atau Blessed Be The Land of Zimbabwe dalam bahasa Inggris,&lt;br /&gt;sambil menghadap patung-patung pahlawan kemerdekaan.&lt;br /&gt;Di bawah sengatan panas matahari, mereka memberi hormat kepada&lt;br /&gt;pahlawan mereka yang direpresentasikan pada tiga patung&lt;br /&gt;pahlawan. "Ini cara kami menanamkan rasa nasionalisme kepada anak-&lt;br /&gt;anak agar selalu bangga terhadap negara dan bangsa Zimbabwe," ujar&lt;br /&gt;Guveya Kamuhzandu, guru sekolah dasar Warren Park 4 Primary yang&lt;br /&gt;mendampingi murid-murid itu, hari Selasa, 4 April 2006.&lt;br /&gt;L Mandima, kurator Taman Makam Pahlawan Zimbabwe (National Heroes&lt;br /&gt;Acre), menyatakan, taman makam pahlawan itu sengaja dibangun untuk&lt;br /&gt;memberi penghormatan kepada pahlawan yang telah gugur dan sekaligus&lt;br /&gt;memompa semangat generasi muda untuk terus berjuang melawan&lt;br /&gt;penindasan dengan berbagai risiko.&lt;br /&gt;Rakyat Zimbabwe kini sedang menuai berbagai risiko perjuangan&lt;br /&gt;melawan penindasan. Setelah meraih kemerdekaan dari Inggris pada 18&lt;br /&gt;April 1980, negeri ini belum menikmati kekayaan alam sepenuhnya.&lt;br /&gt;Sebanyak 80 persen tanah subur dikuasai petani kulit putih yang&lt;br /&gt;mengerti teknologi pertanian dan pangan. Sementara rakyat pribumi&lt;br /&gt;hanya kebagian tanah tandus kering. Bahkan, banyak dari mereka hanya&lt;br /&gt;sebagai buruh tani di lahan-lahan yang dikuasai petani kulit putih.&lt;br /&gt;Melihat kenyataan seperti ini, Presiden Zimbabwe Robert Gabriel&lt;br /&gt;Mugabe pada tahun 2000 meluncurkan program landreform (reformasi di&lt;br /&gt;bidang pertanahan).&lt;br /&gt;Program landreform di negeri ini memunculkan perubahan besar di&lt;br /&gt;dalam negeri. Lahan-lahan subur yang dikuasai petani kulit putih&lt;br /&gt;diambil alih pemerintah, kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk asli&lt;br /&gt;Zimbabwe.&lt;br /&gt;Pengambilalihan lahan pertanian dari petani kulit putih yang&lt;br /&gt;umumnya keturunan Inggris itu mendapat kecaman keras dari negara-&lt;br /&gt;negara Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat. Sampai pada&lt;br /&gt;akhirnya, Inggris dan AS menjatuhkan smart sanction terhadap Zimbabwe.&lt;br /&gt;Sikap Inggris dan AS itu kemudian diikuti negara-negara Uni&lt;br /&gt;Eropa, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Negara-negara yang&lt;br /&gt;memberi hukuman itu kemudian menghentikan bantuan keuangan untuk&lt;br /&gt;Zimbabwe, membekukan aset-aset pemerintah, dan melarang pejabat&lt;br /&gt;Zimbabwe berkunjung ke negara-negara tersebut.&lt;br /&gt;Para pejabat Zimbabwe dituduh bertindak rasialis dan melanggar&lt;br /&gt;hak asasi manusia karena dinilai secara sepihak merebut lahan-lahan&lt;br /&gt;pertanian milik petani kulit putih. "Tuduhan itu tidak benar. Kami&lt;br /&gt;tidak pernah melakukan perampasan tanah dari petani kulit putih.&lt;br /&gt;Tanah itu milik rakyat Zimbabwe," kata Menteri Informasi dan&lt;br /&gt;Publisitas Zimbabwe Tichaona Jokonya dalam keterangan pers, Jumat&lt;br /&gt;(7/4) pekan lalu.&lt;br /&gt;"Mana mungkin orang kulit putih datang kemari dengan menyunggi&lt;br /&gt;tanah dari negeri mereka. Itu tidak mungkin. Semua tanah yang dibagi-&lt;br /&gt;bagikan kepada rakyat itu memang tanah milik rakyat Zimbabwe," tutur&lt;br /&gt;Jokonya yang mengaku tidak berkecil hati dengan sanksi dari negara-&lt;br /&gt;negara tersebut.&lt;br /&gt;Tidak ada upaya Zimbabwe mendekati Inggris dan AS. Zimbabwe&lt;br /&gt;bahkan menjauh dari negara-negara itu. Pada 10 Desember 2003,&lt;br /&gt;Zimbabwe memutuskan keluar dari keanggotaan Negara Persemakmuran&lt;br /&gt;(Commonwealth). Alasannya, Pemerintah Zimbabwe memandang Inggris dan&lt;br /&gt;negara-negara sekutunya terlalu ikut campur urusan dalam negeri&lt;br /&gt;Zimbabwe.&lt;br /&gt;Akibatnya, Zimbabwe semakin jauh dari negara-negara yang dihuni&lt;br /&gt;mayoritas kulit putih. Belakangan Pemerintah Zimbabwe mencoba&lt;br /&gt;mencari "teman" ke negara-negara Asia Timur, Selatan, Utara, dan&lt;br /&gt;Tenggara (termasuk Indonesia) untuk membangun kembali ekonomi yang&lt;br /&gt;sudah morat-marit.&lt;br /&gt;Dalam hal kerja sama, yang sudah pasti Zimbabwe juga menggandeng&lt;br /&gt;negara-negara yang berada di satu benua dengan Zimbabwe, yaitu&lt;br /&gt;Afrika. Bahkan, negara-negara Timur Tengah juga mulai bergandengan&lt;br /&gt;tangan dengan Zimbabwe. "Tidak ada masalah. Amerika dan Inggris&lt;br /&gt;bukan merupakan dunia secara keseluruhan. Masih ada yang lain," kata&lt;br /&gt;Jokonya.&lt;br /&gt;Silang sengketa antara negara-negara Barat dan Zimbabwe juga&lt;br /&gt;ditandai dengan berita-berita yang dinilai miring oleh pers Barat&lt;br /&gt;yang sama sekali tidak menguntungkan negara berpenduduk sekitar 13&lt;br /&gt;juta orang ini. Sebagai menteri informasi dan publisitas, Jokonya&lt;br /&gt;melihat adanya serangan yang luar biasa dari pers Barat yang&lt;br /&gt;berdampak pada hancurnya ekonomi negerinya.&lt;br /&gt;Pers Barat dinilai menyebarkan berita-berita yang tidak seimbang&lt;br /&gt;dan cenderung menjelek-jelekkan Zimbabwe. Penilaian serupa terhadap&lt;br /&gt;pers Barat juga dikemukakan Ketua Pelaksana Komisi Informasi dan&lt;br /&gt;Media Zimbabwe Tafataona P Mahoso.&lt;br /&gt;Mahoso sempat mengkliping berita-berita dari pers Barat tentang&lt;br /&gt;Zimbabwe. "Di sini pernah diberitakan ada seorang penderita AIDS/HIV&lt;br /&gt;dipenggal kepalanya. Padahal, orang itu meninggal karena sakit. Kami&lt;br /&gt;sudah menyampaikan protes terhadap pemberitaan itu kepada media yang&lt;br /&gt;bersangkutan," tutur Mahoso.&lt;br /&gt;"Berita-berita yang tidak mengandung fakta seperti itu jelas&lt;br /&gt;turut menghancurkan ekonomi di negeri ini. Pasar bursa kacau,&lt;br /&gt;investasi anjlok. Investor takut masuk ke negeri ini," tutur Mahoso&lt;br /&gt;yang memandang begitu penting peranan pers terhadap kemerosotan dan&lt;br /&gt;perkembangan ekonomi.&lt;br /&gt;Hidup seadanya&lt;br /&gt;Zimbabwe kini masih dalam isolasi Inggris dan sekutunya. Negara&lt;br /&gt;ini juga dalam proses menuju masa depan dengan negara-negara Afrika,&lt;br /&gt;Asia, dan Timur Tengah. Dalam proses untuk menjadi makmur atau&lt;br /&gt;mungkin sebaliknya jika gagal, rakyat Zimbabwe kini hidup dalam&lt;br /&gt;keadaan prihatin, hidup seadanya.&lt;br /&gt;Krisis ekonomi belum pulih. Inflasi mencapai 782 persen Februari&lt;br /&gt;lalu. Nilai tukar mata uang dollar Zimbabwe terhadap dollar AS&lt;br /&gt;merosot menjadi 101.000 dollar Zimbabwe per 1 dollar AS.&lt;br /&gt;Di kota Harare dan daerah pinggiran, rumput-rumput liartumbuh&lt;br /&gt;subur di pinggir-pinggir jalan yang masih tampak bersih. Rumput-&lt;br /&gt;rumput yang terus meninggi itu dibiarkan begitu saja. Di jalan utama&lt;br /&gt;di kota Harare, seperti Third Street, rambu-rambu lalu lintas yang&lt;br /&gt;berkarat dan terkelupas catnya, sehingga tak terbaca lagi tandanya,&lt;br /&gt;belum juga diganti. Angkutan umum sulit didapat.&lt;br /&gt;"Di sini angkutan umum memang masih menjadi problem besar.&lt;br /&gt;Angkutan umum masih minim. Diperlukan dua kali lipat dari jumlah yang&lt;br /&gt;ada sekarang ini, baru memadai," kata Ivanhoe M Gurira selaku&lt;br /&gt;Principal Press Secretary di Kementerian Informasi dan Publisitas&lt;br /&gt;Zimbabwe.&lt;br /&gt;Persoalannya sekarang adalah sulit mencari investor yang mau&lt;br /&gt;terjun ke dunia transportasi. Akibatnya kendaraan umum semakin&lt;br /&gt;langka. Banyak orang dijalan-jalan mencegat mobil yang melintas.&lt;br /&gt;Tidak peduli mobil pribadi, mobil diplomat, atau mobil dinas apa&lt;br /&gt;saja. Mereka mengharap belas kasih dari pengendara mobil untuk bisa&lt;br /&gt;mengangkut mereka.&lt;br /&gt;Di pedesaan, masyarakat makan seadanya. Sadza (tepung jagung yang&lt;br /&gt;dimasak seperti bubur kental) dimakan begitu saja, dengan ditemani&lt;br /&gt;sayuran. Tanpa garam dan cabai. "Ya, beginilah kami di desa. Kadang-&lt;br /&gt;kadang garam dan cabai sulit dicari sampai berhari-hari. Akhirnya&lt;br /&gt;makan apa adanya seperti ini," tutur Amado Tapera (52), warga Desa&lt;br /&gt;Dombosawa, sambil menyantap sadza.&lt;br /&gt;Kesulitan hidup kini dialami hampir seluruh rakyat Zimbabwe.&lt;br /&gt;Potensi alam yang terhampar luas hingga saat ini belum seluruhnya&lt;br /&gt;dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;Foto-foto:&lt;br /&gt;Kompas/M Nasir&lt;br /&gt;Untuk menghormati para pahlawan yang telah gugur, murid sekolah dasar&lt;br /&gt;diajak berkunjung ke Taman Makam Pahlawan Nasional Zimbabwe, Selasa&lt;br /&gt;(4/4). Taman itu terletak di dataran tinggi Warren Hills di sebelah&lt;br /&gt;barat kota Harare.&lt;br /&gt;Seperti hari-hari sebelumnya, kota Harare, Rabu (5/4) lalu, tampak&lt;br /&gt;lengang. Masalah transportasi masih menjadi problem besar bagi ibu&lt;br /&gt;kota Harare yang berpenduduk sekitar dua juta orang itu. Investor&lt;br /&gt;tampaknya masih enggan terjun ke bisnis transportasi.&lt;br /&gt;Image:&lt;br /&gt;Peta-Zimbabwe&lt;br /&gt;Image:&lt;br /&gt;Hubungan Bilateral Indonesia-Zimbabwe&lt;br /&gt;1. Hubungan diplomatik Indonesia-Zimbabwe diresmikan 14 Agustus&lt;br /&gt;1986, yang disusul dengan pembukaan Kedutaan Besar RI di Zimbabwe.&lt;br /&gt;2.Kedua negara memiliki potensi kerja sama di bidang perdagangan,&lt;br /&gt;investasi, turisme, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bidang&lt;br /&gt;sosial-budaya dan penerangan.&lt;br /&gt;3.Hubungan bilateral kedua negara telah terbina dengan baik karena&lt;br /&gt;masing-masing punya pandangan yang sama dalam berbagai forum&lt;br /&gt;subregional, regional, dan internasional.&lt;br /&gt;4.Pada 23 Februari 2003, Presiden Robert Mugabe mengadakan&lt;br /&gt;pertemuan bilateral dengan Presiden Megawati Soekarnoputri di Kuala&lt;br /&gt;Lumpur untuk membicarakan revitalisasi Gerakan Nonblok dan&lt;br /&gt;peningkatan hubungan kedua negara, terutama di bidang ekonomi dan&lt;br /&gt;perdagangan.&lt;br /&gt;5.Sejak 1997, Indonesia telah mengadakan investasi di Zimbabwe&lt;br /&gt;melalui modal patungan dengan nilai 34 juta dollar AS di bidang&lt;br /&gt;peternakan burung unta.&lt;br /&gt;Sumber: Kedutaan Besar RI di Harare&lt;br /&gt;'Rakyat Zimbabwe kini sedang menuai berbagai risiko perjuangan&lt;br /&gt;melawan penindasan.'&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/298433241625412861-1117712384762240679?l=mohammadadamnasir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/feeds/1117712384762240679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=298433241625412861&amp;postID=1117712384762240679' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/1117712384762240679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/1117712384762240679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/2007/11/zimbabwe_9259.html' title='Zimbabwe'/><author><name>M Nasir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13901102521996065318</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-298433241625412861.post-4323926280699927101</id><published>2007-11-12T04:58:00.001-08:00</published><updated>2007-11-12T05:07:01.251-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='feature'/><title type='text'>Zimbabwe</title><content type='html'>This is my an article that was published at Kompas, leading Indonesian daily news paper:&lt;br /&gt;KOMPAS - Senin, 17 Apr 2006 Halaman: 50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELANGI BERTEBARAN DI VICTORIA FALLS&lt;br /&gt;Oleh M Nasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang mengira Victoria Falls berada di kawasan Puncak,&lt;br /&gt;Jawa Barat, di mana banyak produk properti diberi nama kebarat-&lt;br /&gt;baratan. Victoria Falls yang dimaksud di sini juga bukan di Barat,&lt;br /&gt;tetapi di Benua Afrika, tepatnya di Zimbabwe.&lt;br /&gt;Victoria Falls, nama sebuah kawasan di mana terdapat air terjun&lt;br /&gt;raksasa yang menjadi mata dagangan utama Zimbabwe dalam dunia&lt;br /&gt;turisme. Begitu sangat getol Zimbabwe menawarkan Victoria Falls,&lt;br /&gt;membuat Zimbabwe yang pada tanggal 18 April ini merayakan hari&lt;br /&gt;kemerdekaan identik dengan Victoria Falls. Seperti halnya Indonesia&lt;br /&gt;dengan Bali.&lt;br /&gt;Barang-barang cetakan yang beredar dan dibagi-bagikan kepada&lt;br /&gt;turis, gambar air terjun Victoria Falls selalu mendominasi. Pada&lt;br /&gt;bagian gambar bertuliskan "Zimbabwe Africa's Paradise". Padahal,&lt;br /&gt;Zimbabwe punya sejumlah wisata alam lainnya yang menakjubkan, seperti&lt;br /&gt;Hwange National Park yang terkenal dengan binatang-binatang liarnya&lt;br /&gt;dan situs purbakala di Masvingo.&lt;br /&gt;Nama Victoria Falls tampaknya tidak akan diganti oleh Pemerintah&lt;br /&gt;Zimbabwe meskipun nama besar itu tidak mencerminkan nasionalisme&lt;br /&gt;bangsa Zimbabwe. "Victoria Falls tidak diganti karena sudah mendunia,"&lt;br /&gt;kata Ivanhoe M Gurira, Principal Press Secretary di Kementerian&lt;br /&gt;Informasi dan Publisitas Zimbabwe.&lt;br /&gt;Bila Victoria Falls diganti nama baru, akan memakan waktu lama&lt;br /&gt;untuk memperkenalkan pada dunia. Berbeda dengan nama-nama wilayah&lt;br /&gt;lainnya, termasuk nama negaranya yang sudah terlebih dulu diganti&lt;br /&gt;dengan nama yang berasal dari bahasa setempat, yakni Shona dan&lt;br /&gt;Ndebele. Penggantian nama-nama Barat menjadi nama lokal itu dilakukan&lt;br /&gt;sejak negara itu merdeka dari Inggris tahun 1980.&lt;br /&gt;Nama Zimbabwe sekarang ini adalah nama baru hasil nasionalisasi.&lt;br /&gt;Zimbabwe yang berarti rumah yang terbuat dari batu itu dulu bernama&lt;br /&gt;Southern Rhodesia.&lt;br /&gt;Akan tetapi, apa pun nama yang diberikan pada suatu kawasan,&lt;br /&gt;tetap saja tidak mengubah kondisi alam itu sendiri. Keindahan alam&lt;br /&gt;tidak akan terdongkrak atau terkurangi oleh nama-nama pilihan manusia&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;Kawasan Victoria Falls yang merupakan perpaduan antara hutan&lt;br /&gt;liar, air terjun, tebing batu, dan sungai sejak diperkenalkan pada&lt;br /&gt;dunia Barat pada tahun 1855 oleh David Livingstone tetap saja memikat&lt;br /&gt;pengunjungnya.&lt;br /&gt;Burung dan jangkrik&lt;br /&gt;Pintu belakang kamar Resort Elephant Hills di Victoria Falls kami&lt;br /&gt;buka ketika masih pagi buta. Udara dingin pun menyergap ke dalam&lt;br /&gt;kamar. Ketika itu di luar masih tampak gelap, tetapi burung-burung&lt;br /&gt;sudah berkicau. Ada yang mencicit keras, ada yang meraung-raung&lt;br /&gt;seperti suara binatang, dan ada yang menjerit-jerit seperti bayi&lt;br /&gt;menangis. Suara jangkrik pun bersahut-sahutan.&lt;br /&gt;Sekitar satu jam kemudian langit di timur mulai memerah. Pucuk-&lt;br /&gt;pucuk pohon hutan mulai tampak. Burung-burung mulai terlihat&lt;br /&gt;beterbangan. Matahari mulai menyembul sedikit demi sedikit dengan&lt;br /&gt;sinarnya yang memerah.&lt;br /&gt;Di arah agak selatan terlihat kabut tebal yang menyelimuti&lt;br /&gt;daratan itu. Kami yang belum pernah tahu seluk-beluk kawasan itu&lt;br /&gt;memperkirakan, kabut putih itu adalah lokasi air terjun Victoria&lt;br /&gt;Falls. Dan, ternyata benar.&lt;br /&gt;Kabut tebal air terjun itu terlihat dari jarak sekitar empat&lt;br /&gt;kilometer dari resor yang menampung banyak wisatawan dari Asia itu.&lt;br /&gt;Pada siang hari, rombongan dari Metro TV, Radio Republik Indonesia&lt;br /&gt;(RRI), Koran Tempo, dan Kompas menuju ke arah air terjun.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan sebuah bus, rombongan dipandu seorang&lt;br /&gt;pengemudi yang fasih berbahasa Inggris dan mampu menjelaskan apa yang&lt;br /&gt;terlihat di kiri dan kanan jalan. Pengemudi yang berbadan kurus dan&lt;br /&gt;berkulit hitam itu bernama Elias.&lt;br /&gt;Di jalan tikungan di sebuah hutan belantara, Elias menghentikan&lt;br /&gt;busnya. Ia minta semua penumpangnya turun untuk diberi penjelasan&lt;br /&gt;adanya sebuah pohon baobab besar di pinggir tikungan jalan beraspal&lt;br /&gt;itu. Ia menjelaskan bahwa pohon itu konon sudah berusia 1.500 tahun.&lt;br /&gt;Daun pohon itu bila direbus dapat diminum untuk menyembuhkan&lt;br /&gt;malaria. Pohon besar itu dikurung dengan pagar kawat agar tidak&lt;br /&gt;didekati oleh turis. "Kalau tidak dipagar, lama-kelamaan pohon ini&lt;br /&gt;rusak," tuturnya.&lt;br /&gt;Pelangi di bawah jembatan&lt;br /&gt;Begitu sampai di pintu gerbang taman nasional, National Park and&lt;br /&gt;Wild Life yang mengurus air terjun Victoria Falls, kami ditawari jas&lt;br /&gt;hujan oleh orang-orang yang membuka kios di sekitar pintu masuk air&lt;br /&gt;terjun. Begitu pula pengunjung lain.&lt;br /&gt;Pengunjung sempat terkaget-kaget ketika ditawari jas hujan karena&lt;br /&gt;saat itu tidak ada mendung. Matahari pun bersinar terang dan langit&lt;br /&gt;tampak biru. Setelah diberi penjelasan oleh pemandu bahwa pengunjung&lt;br /&gt;pasti basah karena air akan tiba-tiba mengguyur dari atas layaknya&lt;br /&gt;hujan, berulah mereka menyewa jas hujan. Hal itu ternyata benar,&lt;br /&gt;begitu kami mendekat ke tebing jurang Sungai Zambezi dan tampak air&lt;br /&gt;terjun yang menggerojok tebing dengan suara gemuruh.&lt;br /&gt;Air terjun Victoria Falls merupakan yang terbesar di dunia. Salah&lt;br /&gt;satu keajaiban dunia tampak di lokasi ini. Dari luas bibir gerojokan&lt;br /&gt;sepanjang 1.700 meter, air dengan bebas terjun ke jurang Sungai&lt;br /&gt;Zambezi sedalam sedikitnya 100 meter.&lt;br /&gt;Luapan air terlempar ke angkasa sejauh ratusan meter, membentuk&lt;br /&gt;kabut, dan jatuh bagaikan hujan. Tiba-tiba saja kawasan itu dilanda&lt;br /&gt;hujan deras, dan kadang-kadang rintik-rintik tergantung angin, terus&lt;br /&gt;bergulung-gulung di kawasan ini.&lt;br /&gt;Air terjun dapat dilihat dari tebing sungai sepanjang sekitar 2,5&lt;br /&gt;kilometer. Di sepanjang jalan menuju tebing, hujan yang bersumber&lt;br /&gt;dari semburan air yang tertiup angin tidak henti-henti. Hal ini&lt;br /&gt;membuat pengunjung sulit untuk mengeluarkan kamera guna memotret.&lt;br /&gt;Padahal, di depan mata berjarak antara tiga hingga lima meter&lt;br /&gt;terlihat lingkaran pelangi.&lt;br /&gt;Di jalan depan kaki tampak pelangi, di samping kiri dan kanan pun&lt;br /&gt;muncul pelangi, dengan lingkaran berbagai ukuran. Bahkan, di bawah&lt;br /&gt;sungai sekitar Jembatan Zambezi yang menghubungkan perbatasan antara&lt;br /&gt;Zimbabwe dan Zambia, pelangi tampak nyata.&lt;br /&gt;Melihat begitu banyak pelangi yang bertebaran dalam berbagai&lt;br /&gt;ukuran, kami mengedip-ngedipkan dan membelalakkan mata, seakan-akan&lt;br /&gt;tidak percaya dengan pandangan mata sendiri. Benarkah ini pelangi?&lt;br /&gt;Ini kehidupan nyata di Victoria Falls pada awal April 2006.&lt;br /&gt;Rasa kagum sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasanya tidak&lt;br /&gt;cukup kata-kata kita untuk mengurai kembali pengalaman empiris selama&lt;br /&gt;menyusuri Victoria Falls. Kesulitan mengungkap rasa itulah yang&lt;br /&gt;mendorong James Pardede, Direktur Kemitraan Media Departemen&lt;br /&gt;Komunikasi dan Informatika RI bertanya, "Bagaimana wartawan media&lt;br /&gt;cetak mengungkapkan pengalaman di Victoria Falls?"&lt;br /&gt;Pertanyaan itu dilontarkan kepada beberapa wartawan yang&lt;br /&gt;melakukan perjalanan jurnalistik ke Victoria Falls bersama dirinya.&lt;br /&gt;Wartawan pun tak memberi jawaban yang memuaskan. Memang, pengalaman&lt;br /&gt;dari hasil membaca tidak sehebat ketika berkunjung langsung ke lokasi.&lt;br /&gt;Karena itu, banyak orang tidak puas dengan membaca laporan media,&lt;br /&gt;selebaran-selebaran yang berisi cerita dan gambar-gambar Victoria&lt;br /&gt;Falls. Ketika Kompas tiba di Victoria Falls, di lokasi sudah ada&lt;br /&gt;rombongan turis dari China, Jepang, dan Timur Tengah.&lt;br /&gt;Mereka ingin meraih pengalaman langsung yang mendebarkan dari&lt;br /&gt;daratan Zimbabwe yang eksotis, dan banyak yang masih belum terjamah&lt;br /&gt;rekayasa tangan-tangan pembangunan.&lt;br /&gt;Harga jadi penghalang&lt;br /&gt;Ada saran penting untuk turis yang memasuki kawasan Victoria&lt;br /&gt;Falls. Tanyakan terlebih dulu biaya atau harga apa pun, termasuk&lt;br /&gt;ketika membeli suvenir. Persoalannya, pemerintah setempat belum mampu&lt;br /&gt;mengendalikan harga-harga di Victoria Falls.&lt;br /&gt;Untuk tarif pulsa telepon Jakarta-Victoria Falls, pihak Resort&lt;br /&gt;Elephant Hills mematok tarif 20 dollar AS per menit. Jika kita&lt;br /&gt;menelepon tiga menit, biaya pulsa yang harus dibayar Rp 60 dollar AS&lt;br /&gt;(atau setara Rp 600.000, dengan kurs per 1 dollar Rp 10.000).&lt;br /&gt;Padahal, di sebuah hotel di Kota Harare, tarif telepon Harare-Jakarta&lt;br /&gt;cuma dua dollar AS per menit.&lt;br /&gt;Tentang harga-harga yang tidak masuk akal itu dikeluhkan juga&lt;br /&gt;oleh delegasi media Malaysia yang berkunjung ke Victoria Falls. Ravin&lt;br /&gt;Ravichandran, pimpinan delegasi media Malaysia, menyampaikan harga-&lt;br /&gt;harga yang gila-gilaan di Victoria Falls itu di depan pimpinan&lt;br /&gt;OtoritasTurisme Zimbabwe (The Zimbabwe Tourism Authority/ZTA),&lt;br /&gt;Karikoga Kaseke.&lt;br /&gt;Kaseke mengatakan, pihaknya sedang menerapkan mekanisme untuk&lt;br /&gt;meninjau kembali harga-harga di toko-toko suvenir dan hotel-hotel di&lt;br /&gt;kawasan wisata. "Tidak ada negara yang serius dalam menangani turisme&lt;br /&gt;membolehkan hal itu. Ini sebuah ilusi jika hanya karena Victoria&lt;br /&gt;Falls sebuah keajaiban dunia, lalu harga-harga dimahalkan," kata&lt;br /&gt;Kaseke seperti dikutip harian The Herald, 4 April 2006.&lt;br /&gt;Jika harga-harga di Victoria Falls tetap tidak masuk akal, akan&lt;br /&gt;menjadi penghalang turis masuk ke Victoria Falls yang tidak ditemui&lt;br /&gt;di belahan bumi yang lain itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/298433241625412861-4323926280699927101?l=mohammadadamnasir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/feeds/4323926280699927101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=298433241625412861&amp;postID=4323926280699927101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/4323926280699927101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/4323926280699927101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/2007/11/zimbabwe_12.html' title='Zimbabwe'/><author><name>M Nasir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13901102521996065318</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-298433241625412861.post-8340962860277428958</id><published>2007-11-12T04:58:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T05:01:47.593-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='international politics'/><title type='text'>Zimbabwe</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;ZIMBABWE MENATAP MASA DEPAN TANPA BARAT&lt;/span&gt;...                            Oleh M Nasir                          Pengantar Redaksi        Pemerintah Zimbabwe melalui duta besarnya untuk Indonesia, Alice Mageza, mengundang wartawan Indonesia untuk melihat langsung keadaan terakhir Zimbabwe pada minggu pertama April 2006. Wartawan "Kompas"  yang memenuhi undangan itu menuliskan sebagian laporannya di bawah ini.    Sekitar 150 murid kelas VI sekolah dasar berbaris dan berjalan menuju Taman Makam Pahlawan Nasional di Warren Hills, pinggiran kota Harare, ibu kota Zimbabwe.        Dengan seragam hijau yang membalut tubuh mereka yang kurus dan hitam, mereka mengumandangkan lagu kebangsaan Kalibusiswe Ilizwe le Zimbabwe, atau Blessed Be The Land of Zimbabwe dalam bahasa Inggris, sambil menghadap patung-patung pahlawan kemerdekaan.    Di bawah sengatan panas matahari, mereka memberi hormat kepada pahlawan mereka yang direpresentasikan pada tiga patung pahlawan. "Ini cara kami menanamkan rasa nasionalisme kepada anak-anak agar selalu bangga terhadap negara dan bangsa Zimbabwe," ujar Guveya Kamuhzandu, guru sekolah dasar Warren Park 4 Primary yang mendampingi murid-murid itu, hari Selasa, 4 April 2006.    L Mandima, kurator Taman Makam Pahlawan Zimbabwe (National Heroes Acre), menyatakan, taman makam pahlawan itu sengaja dibangun untuk memberi penghormatan kepada pahlawan yang telah gugur dan sekaligus memompa semangat generasi muda untuk terus berjuang melawan penindasan dengan berbagai risiko.    Rakyat Zimbabwe kini sedang menuai berbagai risiko perjuangan melawan penindasan. Setelah meraih kemerdekaan dari Inggris pada 18 April 1980, negeri ini belum menikmati kekayaan alam sepenuhnya. Sebanyak 80 persen tanah subur dikuasai petani kulit putih yang mengerti teknologi pertanian dan pangan. Sementara rakyat pribumi hanya kebagian tanah tandus kering. Bahkan, banyak dari mereka hanya sebagai buruh tani di lahan-lahan yang dikuasai petani kulit putih.    Melihat kenyataan seperti ini, Presiden Zimbabwe Robert Gabriel Mugabe pada tahun 2000 meluncurkan program landreform (reformasi di bidang pertanahan).    Program landreform di negeri ini memunculkan perubahan besar di dalam negeri. Lahan-lahan subur yang dikuasai petani kulit putih diambil alih pemerintah, kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk asli Zimbabwe.    Pengambilalihan lahan pertanian dari petani kulit putih yang umumnya keturunan Inggris itu mendapat kecaman keras dari negara-negara Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat. Sampai pada akhirnya, Inggris dan AS menjatuhkan smart sanction terhadap Zimbabwe.    Sikap Inggris dan AS itu kemudian diikuti negara-negara Uni Eropa, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Negara-negara yang memberi hukuman itu kemudian menghentikan bantuan keuangan untuk Zimbabwe, membekukan aset-aset pemerintah, dan melarang pejabat Zimbabwe berkunjung ke negara-negara tersebut.    Para pejabat Zimbabwe dituduh bertindak rasialis dan melanggar hak asasi manusia karena dinilai secara sepihak merebut lahan-lahan pertanian milik petani kulit putih. "Tuduhan itu tidak benar. Kami tidak pernah melakukan perampasan tanah dari petani kulit putih. Tanah itu milik rakyat Zimbabwe," kata Menteri Informasi dan Publisitas Zimbabwe Tichaona Jokonya dalam keterangan pers, Jumat (7/4) pekan lalu.    "Mana mungkin orang kulit putih datang kemari dengan menyunggi tanah dari negeri mereka. Itu tidak mungkin. Semua tanah yang dibagi-bagikan kepada rakyat itu memang tanah milik rakyat Zimbabwe," tutur Jokonya yang mengaku tidak berkecil hati dengan sanksi dari negara-negara tersebut.    Tidak ada upaya Zimbabwe mendekati Inggris dan AS. Zimbabwe bahkan menjauh dari negara-negara itu. Pada 10 Desember 2003, Zimbabwe memutuskan keluar dari keanggotaan Negara Persemakmuran (Commonwealth). Alasannya, Pemerintah Zimbabwe memandang Inggris dan negara-negara sekutunya terlalu ikut campur urusan dalam negeri Zimbabwe.    Akibatnya, Zimbabwe semakin jauh dari negara-negara yang dihuni mayoritas kulit putih. Belakangan Pemerintah Zimbabwe mencoba mencari "teman" ke negara-negara Asia Timur, Selatan, Utara, dan Tenggara (termasuk Indonesia) untuk membangun kembali ekonomi yang sudah morat-marit.    Dalam hal kerja sama, yang sudah pasti Zimbabwe juga menggandeng negara-negara yang berada di satu benua dengan Zimbabwe, yaitu Afrika. Bahkan, negara-negara Timur Tengah juga mulai bergandengan tangan dengan Zimbabwe. "Tidak ada masalah. Amerika dan Inggris bukan merupakan dunia secara keseluruhan. Masih ada yang lain," kata Jokonya.    Silang sengketa antara negara-negara Barat dan Zimbabwe juga ditandai dengan berita-berita yang dinilai miring oleh pers Barat yang sama sekali tidak menguntungkan negara berpenduduk sekitar 13 juta orang ini. Sebagai menteri informasi dan publisitas, Jokonya melihat adanya serangan yang luar biasa dari pers Barat yang berdampak pada hancurnya ekonomi negerinya.    Pers Barat dinilai menyebarkan berita-berita yang tidak seimbang dan cenderung menjelek-jelekkan Zimbabwe. Penilaian serupa terhadap pers Barat juga dikemukakan Ketua Pelaksana Komisi Informasi dan Media Zimbabwe Tafataona P Mahoso.    Mahoso sempat mengkliping berita-berita dari pers Barat tentang Zimbabwe. "Di sini pernah diberitakan ada seorang penderita AIDS/HIV dipenggal kepalanya. Padahal, orang itu meninggal karena sakit. Kami sudah menyampaikan protes terhadap pemberitaan itu kepada media yang bersangkutan," tutur Mahoso.    "Berita-berita yang tidak mengandung fakta seperti itu jelas turut menghancurkan ekonomi di negeri ini. Pasar bursa kacau, investasi anjlok. Investor takut masuk ke negeri ini," tutur Mahoso yang memandang begitu penting peranan pers terhadap kemerosotan dan perkembangan ekonomi.Hidup seadanya    Zimbabwe kini masih dalam isolasi Inggris dan sekutunya. Negara ini juga dalam proses menuju masa depan dengan negara-negara Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Dalam proses untuk menjadi makmur atau mungkin sebaliknya jika gagal, rakyat Zimbabwe kini hidup dalam keadaan prihatin, hidup seadanya.    Krisis ekonomi belum pulih. Inflasi mencapai 782 persen Februari lalu. Nilai tukar mata uang dollar Zimbabwe terhadap dollar AS merosot menjadi 101.000 dollar Zimbabwe per 1 dollar AS.    Di kota Harare dan daerah pinggiran, rumput-rumput liartumbuh subur di pinggir-pinggir jalan yang masih tampak bersih. Rumput-rumput yang terus meninggi itu dibiarkan begitu saja. Di jalan utama di kota Harare, seperti Third Street, rambu-rambu lalu lintas yang berkarat dan terkelupas catnya, sehingga tak terbaca lagi tandanya, belum juga diganti. Angkutan umum sulit didapat.    "Di sini angkutan umum memang masih menjadi problem besar. Angkutan umum masih minim. Diperlukan dua kali lipat dari jumlah yang ada sekarang ini, baru memadai," kata Ivanhoe M Gurira selaku Principal Press Secretary di Kementerian Informasi dan Publisitas Zimbabwe.    Persoalannya sekarang adalah sulit mencari investor yang mau terjun ke dunia transportasi. Akibatnya kendaraan umum semakin langka. Banyak orang dijalan-jalan mencegat mobil yang melintas. Tidak peduli mobil pribadi, mobil diplomat, atau mobil dinas apa saja. Mereka mengharap belas kasih dari pengendara mobil untuk bisa mengangkut mereka.    Di pedesaan, masyarakat makan seadanya. Sadza (tepung jagung yang dimasak seperti bubur kental) dimakan begitu saja, dengan ditemani sayuran. Tanpa garam dan cabai. "Ya, beginilah kami di desa. Kadang-kadang garam dan cabai sulit dicari sampai berhari-hari. Akhirnya makan apa adanya seperti ini," tutur Amado Tapera (52), warga Desa Dombosawa, sambil menyantap sadza.    Kesulitan hidup kini dialami hampir seluruh rakyat Zimbabwe. Potensi alam yang terhampar luas hingga saat ini belum seluruhnya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.Foto-foto:Kompas/M NasirUntuk menghormati para pahlawan yang telah gugur, murid sekolah dasar diajak berkunjung ke Taman Makam Pahlawan Nasional Zimbabwe, Selasa (4/4). Taman itu terletak di dataran tinggi Warren Hills di sebelah barat kota Harare.Seperti hari-hari sebelumnya, kota Harare, Rabu (5/4) lalu, tampak lengang. Masalah transportasi masih menjadi problem besar bagi ibu kota Harare yang berpenduduk sekitar dua juta orang itu. Investor tampaknya masih enggan terjun ke bisnis transportasi.Image:    Peta-ZimbabweImage:          Hubungan Bilateral Indonesia-Zimbabwe    1. Hubungan diplomatik Indonesia-Zimbabwe diresmikan 14 Agustus 1986, yang disusul dengan pembukaan Kedutaan Besar RI di Zimbabwe.    2.Kedua negara memiliki potensi kerja sama di bidang perdagangan, investasi, turisme, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bidang sosial-budaya dan penerangan.        3.Hubungan bilateral kedua negara telah terbina dengan baik karenamasing-masing punya pandangan yang sama dalam berbagai forum subregional, regional, dan internasional.    4.Pada 23 Februari 2003, Presiden Robert Mugabe mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Megawati Soekarnoputri di Kuala Lumpur untuk membicarakan revitalisasi Gerakan Nonblok dan peningkatan hubungan kedua negara, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan.        5.Sejak 1997, Indonesia telah mengadakan investasi di Zimbabwe melalui modal patungan dengan nilai 34 juta dollar AS di bidang peternakan burung unta.    Sumber: Kedutaan Besar RI di Harare'Rakyat Zimbabwe kini sedang menuai berbagai risiko perjuangan melawan penindasan.'&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/298433241625412861-8340962860277428958?l=mohammadadamnasir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/feeds/8340962860277428958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=298433241625412861&amp;postID=8340962860277428958' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/8340962860277428958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/8340962860277428958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/2007/11/zimbabwe.html' title='Zimbabwe'/><author><name>M Nasir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13901102521996065318</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-298433241625412861.post-21339569372807315</id><published>2007-11-12T04:40:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T04:46:36.030-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='community'/><title type='text'>bike to work</title><content type='html'>This is my articles that was published by Kompas, leading Indonesian daily news paper:&lt;br /&gt; KOMPAS - Selasa, 06 Sep 2005   Halaman: 28   Penulis: Nasir, M   Ukuran: 5890   Foto: 1&lt;br /&gt;Komunitas&lt;br /&gt;SEPEDA YANG CENDERUNG MENGGODA&lt;br /&gt;Oleh: M NASIR&lt;br /&gt;Sabtu 27 Agustus 2005, komunitas pekerja bersepeda&lt;br /&gt;mendeklarasikan keberadaannya di depan Balaikota DKI Jakarta.&lt;br /&gt;Komunitas ini perlu dideklarasikan agar semua pihak tahu bahwa di&lt;br /&gt;Jakarta ada pekerja yang bersepeda. Masyarakat pengendara sepeda&lt;br /&gt;motor dan mobil juga diharapkan memberi kesempatan para "bikers" itu&lt;br /&gt;melaju di jalan-jalan Jakarta.&lt;br /&gt;Tentu saja dengan deklarasi itu diharapkan tidak ada sikap yang&lt;br /&gt;melecehkan pesepeda, menyerempet, atau bahkan&lt;br /&gt;menabrak. "Alhamdulillah sih sampai sekarang belum ada anggota kami&lt;br /&gt;yang meninggal akibat diserempet kendaraan bermotor," tutur Taufik&lt;br /&gt;Hidayat, Ketua Komunitas Pekerja Bersepeda, ketika ditanya mengenai&lt;br /&gt;tingkat kerawanan bersepeda di Jakarta yang padat lalu lintas.&lt;br /&gt;Dari penjelasan Taufik dapat ditarik kesimpulan bahwa selama ini&lt;br /&gt;pengendara kendaraan bermotor bersedia memberi kesempatan pesepeda&lt;br /&gt;melintas di jalan raya.&lt;br /&gt;Dalam deklarasi yang dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi&lt;br /&gt;Bowo, pemerintah juga diingatkan agar memberi perlakuan yang adil&lt;br /&gt;terhadap pesepeda.&lt;br /&gt;Sikap "adil" diharapkan terwujud dalam bentuk konkret. Misalnya,&lt;br /&gt;memberi fasilitas bagi pekerja bersepeda. Jika di kantor-kantor&lt;br /&gt;terdapat lokasi parkir khusus sepeda motor dan mobil, mengapa untuk&lt;br /&gt;sepeda tidak?&lt;br /&gt;"Kami mengharapkan adanya parkir khusus sepeda. Dengan tempat&lt;br /&gt;parkir khusus kami merasa tenang bekerja dan aman," kata Taufik.&lt;br /&gt;Alasan Taufik untuk meminta tempat parkir khusus masuk akal.&lt;br /&gt;Sebab jika tidak ada parkir khusus, sepeda-sepeda itu akan diparkir&lt;br /&gt;di sembarang tempat di antara kendaraan bermotor.&lt;br /&gt;Dengan ukuran sepeda yang ringan dan mudah ditenteng, potensi&lt;br /&gt;pencurian sepeda sangat tinggi. Padahal, harga sepeda tidak kalah&lt;br /&gt;mahal dibandingkan dengan sepeda motor. Sebuah sepeda yang dimiliki&lt;br /&gt;anggota komunitas pesepeda ada yang seharga Rp 30 juta.&lt;br /&gt;Taufik juga berharap di kantor-kantor, baik itu instansi&lt;br /&gt;pemerintah maupun swasta, disediakan kamar mandi. Pemerintah DKI&lt;br /&gt;diharapkan memberikan dukungan dengan mendorong tersedianya kamar&lt;br /&gt;mandi di seluruh instansi. Sekarang ini tidak semua kantor menyiapkan&lt;br /&gt;kamar mandi. Ada toilet, tetapi tidak bisa untuk mandi.&lt;br /&gt;"Jelas kami gerah dan berkeringat setelah menggenjot sepeda.&lt;br /&gt;Badan akan menjadi segar setelah mandi. Kalau kami harus menumpang&lt;br /&gt;mandi di kantor teman terus-menerus, tidak enak," tutur Taufik.&lt;br /&gt;Untuk tertib di jalan, komunitas pekerja bersepeda ini sudah&lt;br /&gt;berikrar. Dalam ikrar yang dibacakan dalam acara deklarasi, mereka&lt;br /&gt;bertekad menjunjung tinggi etika berlalu lintas serta menjaga&lt;br /&gt;ketertiban. Pesepeda tidak ingin menambah kusut lalu lintas Jakarta.&lt;br /&gt;B2W&lt;br /&gt;Sekitar 500 pesepeda yang hadir dalam deklarasi pekerja bersepeda&lt;br /&gt;27 Agustus lalu berasal dari berbagai kalangan dan dari seluruh&lt;br /&gt;wilayah DKI Jakarta.&lt;br /&gt;Mereka sebagian pekerja kantoran di kawasan Kuningan, Jakarta&lt;br /&gt;Selatan, pegawai kantor pemerintah di Jakarta Utara, Pusat, Barat,&lt;br /&gt;dan Timur, serta sejumlah anggota satuan pengaman (satpam).&lt;br /&gt;Yang tidak terlihat dalam kesempatan itu justru orang-orang yang&lt;br /&gt;sehari-hari bekerja dengan menggunakan sepeda, seperti tukang bakso,&lt;br /&gt;pedagang ikan, dan tukang ojek sepeda. Memang tidaklah asing lagi&lt;br /&gt;bagi pedagang bersepeda dalam bike to work (bersepeda untuk bekerja&lt;br /&gt;atau pekerja bersepeda). Tanpa dideklarasikan pun, mereka tetap&lt;br /&gt;menggunakan bersepeda untuk mencari nafkah.&lt;br /&gt;Kalangan yang disebut terakhir ini memang bukan sasaran kampanye&lt;br /&gt;bike to work atau disingkat B2W. Sebagai catatan angka 2 di antara B&lt;br /&gt;dan W dibaca to, bukan two. Demikian istilah yang digulirkan di&lt;br /&gt;antara penggemar sepeda.&lt;br /&gt;Yang menjadi sasaran kampanye bersepeda adalah para pekerja atau&lt;br /&gt;karyawan yang selama ini menggunakan mobil dan sepeda motor untuk&lt;br /&gt;berangkat dan pulang kerja.&lt;br /&gt;"Kami tidak mengejar jumlah. Yang penting mari kita mulai pergi&lt;br /&gt;ke kantor dengan menggunakan sepeda," tutur Tekad Adiyono,&lt;br /&gt;Sekretaris Komunitas Pekerja Bersepeda, yang ditemui Kompas.&lt;br /&gt;Tekad sudah menjalani B2W tiap hari. Tekad tidak sendirian.&lt;br /&gt;Pekerja-pekerja lain dengan tujuan yang sama, yaitu kawasan Kuningan,&lt;br /&gt;juga berangkat dengan sepeda dari rumah mereka. Misalnya, kelompok&lt;br /&gt;B2W dari Bintaro pada hari-hari tertentu juga bersepeda ke kantor di&lt;br /&gt;kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;Dari daerah Kota, Jalan Kampung Bandan, juga ada Yusman (59) yang&lt;br /&gt;setiap pagi mengayuh sepeda sejauh delapan kilometer menuju tempat&lt;br /&gt;kerjanya di PT Ebroindo di Taman Nyiur, Sunter Agung. "Sudah dua&lt;br /&gt;tahun saya pulang pergi ke tempat pekerjaan dengan sepeda," tutur&lt;br /&gt;Yusman.&lt;br /&gt;Dari segi jumlah hari, kata Tekad, tidak penting. Tidak harus&lt;br /&gt;bersepeda ke tempat kerja setiap hari karena mungkin saja jarak&lt;br /&gt;antara rumah dan tempat pekerjaan sampai belasan atau bahkan puluhan&lt;br /&gt;kilometer. "Seminggu sekali atau dua kali saja sudah cukup," tutur&lt;br /&gt;Tekad yang tiap hari bersepeda ke kantor di kawasan Kuningan.&lt;br /&gt;Cenderung menggoda&lt;br /&gt;Aktivitas bersepeda sebenarnya mengasyikkan bagi yang&lt;br /&gt;menyukainya. Bahkan banyak di antara mereka yang merasa ketagihan.&lt;br /&gt;Begitu tingginya tingkat ketagihan bersepeda, sepeda bisa diibaratkan&lt;br /&gt;candu yang mampu membuat penggunanya lupa segalanya.&lt;br /&gt;Dalam program B2W, kecenderungan sepeda yang menggoda penggunanya&lt;br /&gt;untuk bermain, bisa melupakan pekerjaan yang menjadi tujuan utama.&lt;br /&gt;Jangan-jangan lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan sepeda&lt;br /&gt;daripada waktu yang digunakan untuk kerja.&lt;br /&gt;Maka slogan bike to work harus selalu didengung-dengungkan pada&lt;br /&gt;penggemar sepeda agar tidak terpeleset ke dalam bike to play. Kecuali&lt;br /&gt;kalau kita ingin bersepeda untuk bermain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/298433241625412861-21339569372807315?l=mohammadadamnasir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/feeds/21339569372807315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=298433241625412861&amp;postID=21339569372807315' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/21339569372807315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/21339569372807315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/2007/11/bike-to-work.html' title='bike to work'/><author><name>M Nasir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13901102521996065318</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-298433241625412861.post-1989720159363219920</id><published>2007-11-09T09:48:00.001-08:00</published><updated>2007-11-09T10:12:47.316-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Introduce'/><title type='text'>Introduce</title><content type='html'>Hi everyone,&lt;br /&gt;Some of  my friends  in my office, have blog to share thier experiences, to talk each other with people in the globe. That's good I think in the modern age. With Robert Adhi KSP's kindness,  my colleague,  he helped me to make this  blog.&lt;br /&gt;In  my blog, I also would like to share my experiences  to whoever want to read the blog. But I 'm sorry if my English is not so perfect. &lt;br /&gt;Everyone could send anything important for me. I really like reading everything from you.  Please feel free to email me. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nasir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/298433241625412861-1989720159363219920?l=mohammadadamnasir.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/feeds/1989720159363219920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=298433241625412861&amp;postID=1989720159363219920' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/1989720159363219920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/298433241625412861/posts/default/1989720159363219920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohammadadamnasir.blogspot.com/2007/11/introduce.html' title='Introduce'/><author><name>M Nasir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13901102521996065318</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
